Warga Tolak Bongkar

SINGGARAN PATI, BE – Pemkot Bengkulu melalui Asisten I, Dra Rosmidar dan Asisten II Drs H Fachrudin Siregar, kemarin seharusnya memimpin pembongkaran plat deker (gorong-gorong) di kawasan Danau Dendam Tak Sudah (DDTS). Namun pembongkaran gagal dilakukan, karena pemilik menolak, dengan alasan petani yang mempermasalahkan bangunan plat deker itu, tidak hadir.Dalam kesepakatan sebelumnya, warga siap melakukan pembongkaran, asalkan para petani hadir untuk menyaksikan agar tidak ada masalah dikemudian hari. Namun kemarin, petani yang tergabung dalam Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A), dan Kelompok Petani Pemakai Air (KP2A) tidak hadir.Akibatnya, adu mulut antara pemilk bangunan dengan Asisten I, Dra Rosmidar pun terjadi. “Kita bukan apa-apa, dan petani harus menyaksikan. Karena jangan sampai setelah ini nanti kita bongkar, beberapa lama kemudian disalahkan lagi oleh petani. Jadi harus mereka saksikan sendiri,” ungkap pemilik lahan, Ferry Ernest Parera.Karena itu, Ferry meminta agar pembongkaran tidak dilakukan. Selain itu, pembongkaran hanya untuk gorong-gorong, bukan bangunan yang telah berdiri. Menurut Ferry, bahwa bangunan sama sekali tidak ada masalah.“Yang menjadi masalah adalah lokasinya tempat air mengalir justru lebih tinggi, jadi air tidak bisa mengalir. Kemudian sumber air juga tidak ada, dan salurannya sendiiri juga tersumbat, jadi bukan bangunan. Kalu untuk bangunan nanti dulu, masih butuh pembahasan lebih lanjut,” jelasnya.Sementara itu Asisten I Pemkot Bengkulu, Dra Rosmidar, juga sangat menyayangkan sikap para petani yang mengabaikan panggilan. Selain itu, juga Ketua Yayasan Lembak, Usman Yasin juga tidak hadir saat pembahasan kemarin. “Kita akan melakukan pemanggilan lagi kepada para petani dalam waktu dekat ini. Kita sudah berbuat, jangan sampai dikatakan tidak bertindak. Untuk itu, pembongkaran yang dilaporkan tersebut pasti akan kita lakukan sesuai oleh kesepakatan,” tegasnya. (160/cw4)