Tolak Kontes Waria

GPBS ke polres
ASRI/Bengkulu Ekspress
DATANGI: Gabungan organisasi pemuda dan pelajar yang tergabung dalam GPBS mendatangi Kapolres Bengkulu Selatan meminta agar membatalkan kontes waria di Bengkulu Selatan, Rabu (8/8) di ruang kerja Kapolres Bengkulu Selatan.

GPBS Temui Kapolres

KOTA MANNA, Bengkulu Ekspress– Adanya informasi beberapa warga akan menggelar kontes waria di wilayah Bengkulu Selatan (BS) dalam waktu dekat ini membuat para pemuda yang tergabung dalam Gabungan Pemuda Bengkulu Selatan (GPBS) resah. Mereka meminta Polres Bengkulu Selatan dapat menggagalkan rencana kontes tersebut.

“Kedatangan kami ke Polres Bengkulu Selatan ini agar rencana Kontes Waria dapat digagalkan oleh Pak Kapolres,” kata juru bicara GPBS, Yugianto usai menemui Kapolres Bengkulu Selatan di ruang kerjanya, Rabu (8/8) pagi.

Yugi mengatakan, informasi tersebut diterimanya dari masyarakat dan juga kabar yang beredar di media sosial facebook. Pihaknya khawatir, jika tidak diantisipasi, maka kontes tersebut akan terlaksana. Padahal sebelumnya, pihaknya sempat kecolongan pada tahun 2017 lalu pernah digelar kontes serupa. “Jangan sampai keserahan ini semakin marak di tengah masyarakat, sebab dikhawatirkan waria akan semakin menjamur di Bengkulu Selatan, Sebab kontes ini sangat bertentangan denga norma agama,” imbuhnya.



Yugi menambahkan, untuk mengelabui masyarakat, para penggagas kontes waria ini melaksanakan kegiatan 15 Agustus malam hari. Mereka menggelarnya serempak dengan hajatan atau pesta perkawinan penggagasnya. Sehingga terkesan terselubung. Sehingga pihaknya meminta agar kegiatan tersebut dilarang. Sebab Bengkulu Selatan masih sangat memegang erat adat istiadat dan budaya. “Semoga Pak Kapolres dapat melarang kegiatan tersebut,” harap Yugi.

Kapolres Bengkulu Selatan, AKBP Rudy Purnomo SK MH langsung mengambil sikap menindaklanjuti laporan GPBS tersebut. Dirinya mengeluarkan surat edaran mengenai larangan kontes waria tersebut. Dirinya juga mengimbau masyarakat Bengkulu Selatan terus memantau gelaran pesta pernikahan tersebut. “Kita melarang kegiatan yang sifatnya meresahkan warga, termasuk kontes waria ini, silahkan diawasi, jika kegiatan tersebut tetap dilaksanakan, laporkan pada kami,” terang Rudy.

Antoni Nopitra selaku penggagas kontes waria mengatakan, pelaksanaan kontes yang diisukan masyarakat, bukannya kontes waria yang seperti di daerah lain. Hanya saja Kegiatan hiburan yang melibatkan para waria atau bencong. Acara tersebut di laksanakan malam saat pesta pernikahan dirinya. Hal itu sebagai salam perpisahan dengan kawan-kawan waria.

“ Rombongan waria ini rekan-rekan saya sesama tukang salon, rencananya ketika saya menikah, acara tersebut sebagai ajang perpisahan, kemudian piala dalam kontes akan saya serahkan pada waria lainnya,” ujarnya.

Akan tetapi, sambung Antoni Nopitra, dengan banyaknya warga yang menolak ditambah lagi Polisi melarang serta Pak Kades tempat rencana lokasi kontes dilakukan di Desa Jeranglah Tinggi, Manna sudah mengeluarkan surat larangan, dirinya akan membatalkan rencana tersebut. Sehingga hanya acara pesta pernikahan dirinya saja pada malam tersebut tanpa ada kegiatan kontes waria. “Kontes ini akan saya batalkan, saya juga sudah menerima surat larangan dari Pak Kades,” ujar Antoni Nopitra. (369)