Tol Bengkulu Buka Keterisoliran dan Penggerak Ekonomi di Pulau Sumatera

Doc IST/ BE – Pengerjaan jalan tol trans Sumatera, Bengkulu – Lubuk Linggau Sumatera Selatan, pada tahap satu yakni Kota Bengkulu – Taba Penanjung Kabupaten Bengkulu Tengah.

BENGKULU, Bengkuluekspress.com – Ruas jalan TOL (Tax On Location) yang bakal menghubungkan antara Provinsi Bengkulu dengan Provinsi Sumatera Selatan sudah sangat lama ditunggu-tunggu masyarakat khususnya masyarakat Provinsi berjuluk ‘Bumi Rafflesia’. Karena keberadaannya bukan sekedar mempersingkat jarak tempuh saja, tetapi diyakini juga mampu membuka keterisoliran Provinsi Bengkulu serta menjadi penggerak ekonomi di tengah pulau Sumatera.

 

Provinsi Bengkulu termasuk bagian dari koridor pendukung Jalan TOL Trans Sumatera (JTTS), yakni ruas Provinsi Sumatera Selatan – Bengkulu dengan total panjang mencapai 330 KM. Dari total tersebut, untuk wilayah Provinsi Bengkulu sendiri ruas jalan TOL total panjangnya 95,80 KM dengan nilai investasi sebesar Rp 37,613 triliun yang pengerjaannya dibagi menjadi 2 seksi.

 

Gubernur Bengkulu, Dr. H. Rohidin Mersyah meyakini ruas jalan TOL Bengkulu-Lubuk Linggau sepanjang 96 KM, dimana untuk tahap pertama pembangunan itu sepanjang 17,6 KM memberikan kontribusi signifikan terhadap pergerakan ekonomi pulau Sumatera bahkan nasional. Terkhusus bagi kemajuan ekonomi provinsi Bengkulu.

IST/ BE – Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), memantau progres pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera Bengkulu -Lubuk Linggau, dengan cara Fun Bike bersama.

Rohidin mengatakan, dengan dibangunnya jalan Tol Bengkulu – Lubuk Linggau akan terkoneksi dengan Tol Lintas Timur Pulau Sumatera. Nantinya, angkutan barang maupun komoditi unggulan untuk melakukan ekspor impor bergerak melalui TOL Bengkulu-Lubuk Linggau yang koneksitas pelabuhan Pulau Baai sebagai trigger dengan kawasan tengah pulau Sumatera.

“Ini sekali lagi akan betul-betul jadi trigger luar biasa untuk penggerak ekonomi Bengkulu. Apalagi program ini sejalan dengan pemerintah pusat untuk pengembangan sektor kepelabuhan (Tol Laut), termasuk Kawasan Ekonomi Khusus (KEK),” kata Rohidin, Selasa (23/3/21).

Alumnus UGM itu menjelaskan, mimpi kedepan Provinsi Bengkulu bisa menjadi gerbang ekspor dan impor nasional, yang akan menjadi pergerakan ekonomi sangat besar. Sehingga memberikan dampak ekonomi bagi provinsi tempat pengasingan Bung Karno ini.

“Saya rasa ini akan sangat produktif dan sejalan dengan kebijakan pemerintah provinsi Bengkulu. Pembangunan TOl yang merupakan nawacita Presiden Jokowi sangat strategis dengan posisi pelabuhan Pulau Baai sebagai penggerak ekonomi Bengkulu dan bahkan kawasan barat pulau Sumatera,” harapnya.

Gubernur Bengkulu ke-10 ini menambahkan, sesuai dengan jadwal, pihak PT. Hutama Karya (HK) dan PT. Hutama Karya Infrastruktur (HKI) selaku kontraktor dalam pembangunan tol itu, menargetkan pengerjaan proyek Jalan Tol Bengkulu-Lubuk Linggau tahap pertama sepanjang 17,6 Km rampung akhir 2021.

“Untuk ukuran perkembangan pembangunan tol saya kira ini pembangunan yang boleh dikatakan paling cepat. Namun demikian kita tetap butuh support dari semua pihak, agar semua tahapan yang dilakukan teman-teman HK dan HKI bisa sesuai dengan jadwal yang ditetapkan,” pungkasnya.

Menurut, VP Komunikasi Korporat PT. Hutama Karya (Persero), Intan Zania dalam keterangan resminya mengatakan, progres pembangunan jalan TOL Bengkulu- Lubuk Linggau tahap I yakni Bengkulu-Taba Penanjung dengan panjang 17,6 KM sudah mencapai 81,96 persen. Sedangkan untuk pembebasan lahan dalam pembangunan jalan TOL seksi I sudah mencapai 92 persen.

“Saat ini kita masih terus melanjutkan untuk menyelesaikan pembangunan JTTS.Untuk sementara ini dalam wilayah Provinsi Bengkulu, kita masih fokus pada pembangunan seksi I dari Bengkulu-Taba Penanjung sepanjang 17,6 KM,” terang Intan.

Berdasarkan laporan terakhir, sambung Intan, per 12 Maret 2021, progres kontruksi pembangunan jalan TOL seksi I Bengkulu-Taba Penanjung ini sudah mencapai 81,96 persen. Sementara dari sisi progres pembebasan lahan sudah mencapai 92 persen, sehingga menyisakan 18 persen saja lagi.

“Kita optimis pembangunan jalan TOL seksi I ini bisa rampung tepat waktu,pada tahun ini. Namun kita berharap pihak yang terlibat memberikan dukungan. Karena semakin cepat jalan TOL selesai, maka semakin cepat pula masyarakat bisa menikmati,” tuturnya.

Sementara itu, pakar Ekonomi Pembangunan Universitas Bengkulu, Retno Agustina Ekaputri Ph.D, seharusnya Pemerintah Daerah sudah mulai bergerak menciptakan ekonomi baru dampak dari pembangunan Tol Bengkulu – Lubuk Linggau yang saat ini masih dalam pekerjaan.

“Secara teori harusnya dengan adanya pembangunan Tol ini ekonomi Bengkulu akan meningkat,” kata Retno di salah satu hotel di Kota Bengkulu, Rabu ( 24/3).

Retno mengaku, cukup prihatin jika Pemda belum mempersiapkan diri untuk memanfaatkan efek dari pembangunan Tol ini. Pemda saat ini seharusnya sudah mulai bisa menggerakkan masyarakat untuk memanfaatkan momen ini sebagai penggerak ekonomi kedepan.

“Harusnya sudah mulai bisa disiapkan masyarakat mulai direncanakan siapa saja yang nanti akan memanfaatkan ini nantinya,” jelasnya.

Dosen Universitas Bengkulu ini menilai, salah satu dampak yang akan dirasakan pada bidang pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) yang ada di Bengkulu. Maka, Pemda harus sudah mengarahkan para pelaku UMKM memanfaatkan peluang itu.

“Produk-produk unggulan UMKM itu sudah bisa didorong dengan adanya ruas jalan Tol ini. Dimana nantinya akan sangat mempermudah akses transportasi,” ucapnya.

Bukan hanya pelaku UMKM saja, lanjut Retno, dampak besar juga akan berpengaruh pada sektor pariwisata. Sektor pariwisata yang menjadi potensi baik sektor paiwisata yang dikelola oleh Pemda maupun potensi wisata lokal yang dikelola masyarakat.

“Pariwisata ini nanti cakupannya akan luas. Mulai dari hunian, tempat makan, pusat oleh-oleh dan lainnya. Maka harus ada dukungan dan pendampingan dari Pemda,” tutupnya.(HBN)