Tingkatkan Profesionalitas Jurnalis

IST/ BE – Puluhan Jurnalis Bengkulu mengikuti fokus grup diskusi (FGD) literasi digital, di salah satu hotel di Kota Bengkulu pada, Senin (22/11).

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Puluhan jurnalis media siber di Provinsi Bengkulu, mengikuti fokus grup diskusi (FGD) literasi digital, di salah satu hotel di Kota Bengkulu pada, Senin (22/11). FGD tersebut dilaksanakan oleh Universitas Bengkulu,  bekerja sama dengan SMSI (Serikat Media Siber Indonesia) dan JMSI (jaringan Media siber Indonesia) di Bengkulu guna mendukung peningkatan profesionalitas di lapangan.

“Hari ini kita melakukan FGD salah satu rangkaian penelitian literasi digital para jurnalis media online di Bengkulu dalam upaya meningkatkan profesionalisme,” ujar Dosen Ilmu Komunikasi dan Pegiat Literasi Digital di Bengkulu. Dr. Ghusevinalti, M. Si kepada Bengkuluekspress.com usai pembukaan FGD literasi digital Senin (22/11).

Gushevinalti mengungkapkan, tujuan FGD ini, pertama melihat atau memetakan dari mana literasi digital jurnalis media online di Bengkulu. Dari 10 kopetensi yang diajukan Japelidi (Jaringan Pegiat Literasi Digital) yakni akses, memahami, evaluasi bahkan sampai ke kolaborasi.

“Kedua, tujuannya untuk melihat bagaimana yang dilakukan para jurnalis dalam upaya verifikasi fakta atau cek fakta ditengah penggunaan teknologi,” ujarnya.

Ia menjelaskan, sekarang ini penggunaan teknologi digital sangat luar biasa karena disrupsi informasi marak terjadi. Sehingga, pihaknya ingin mengetahui peran para jurnalis melakukan apa dalam keterampilannya dalam pengecekan fakta.

“Agar informasi yang menjadi karya jurnalistik itu sesuai dengan fakta dan tidak berlandarkan opini apalagi terjerumus dalam Hoax,” ungkapnya.

Gushevinalty menegaskan, karya jurnalistik itu tidak boleh memasukan opini pribadi melainkan harus sesuai fakta dilapangan. Terlebih taat kode etik jurnalistik yang menjadi penting apa yang disampaikan dan menjadi hal baik.

Walaupun, sambungnya, dalam pengecekan fakta dengan menggunakan tools di Bengkulu belum dominan dilakukan para jurnalis di Bengkulu. Akan tetapi, pengecekan fakta yang dilakukan para jurnalis bukan hanya berbasis tool tetapi berbasis dengan fakta di lapangan sendiri langsung tanpa menggunakan peralatan digital.

“Dapat disimpulkan jurnalis kebanyakan mengecek kepada sumber yang asli secara langsung, seperti menelpon, wawancara langsung dan itu menurut saya bagus,” jelasnya.

Gushevinalty berharap literasi digital di Bengkulu harus lebih ditingkatkan. Dengan mengadakan pelatihan yang bisa dilakukan bagi para jurnalis untuk meningkatkan profesionalitas dan penerapan kode etik jurnalistik. (HBN)







    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*