SK RS Tambahan Rujukan Covid-19 Sudah Diterbitkan


MEDI/BE
Ketua DPRD Suprianto dan Waka II Alamsyah saat melakukan pengecekan kesiapan sarana dan prasarana RSHD dalam menanggani pasien covid, kemarin (6/7)/

Data RS Tambahan milik Swasta
– RS Rafflesia, Kota Bengkulu
– RS Tiara Sella, Kota Bengkulu
– RS Ummi, Kota Bengkulu
– RS Gading Medika, Kota Bengkulu
– RS Asy Syifa Manna, Kabupaten Bengkulu Selatan
– RS An Nisa Curup, Kabupaten Rejang Lebong

RSHD Wacanakan Penambahan Tenda Darurat

BENGKULU, BE – Terkait semakin meningkatnya kasus harian covid-19 di Provinsi Bengkulu yang berdampak pada penuhnya Rumah Sakit (RS) rujukan pasien Covid-19. Enam RS rujukan tambahan (Swasta) yang disiapkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu sudah bisa digunakan. Pasalnya Surat Keputusan (SK) terkait RS tambahan milik swasta ini sudah diterbitkan.

“Alhamdulillah SK sudah ditandatangani Gubernur sehingga RS rujukan tambahan milik swasta ini bisa difungsikan untuk membantu rumah sakit rujukan milik pemerintah dalam penanganan Covid 19,” terang dari Kadis Kesehatan Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni melalui Kabid Pelayanan Kesehatan dan SDMNK Dinkes Prov, Endriwan Mansyur kepada BE, kemarin (6/7).

Dijelaskannya, RS rujukan tambahan itu, semuanya RS swasta. Dari enam rumah sakit, empat diantaranya berada di Kota Bengkulu yaitu, RS Rafflesia, RS Tiara Sella, RS Ummi dan RS Gading Medika. Sementara dua rumah sakit swasta lainnya ada di Bengkulu Selatan yaitu RS Asy Syifa dan RS An Nisa di Curup Kabupaten Rejang Lebong.

“Semua rumah sakit tersebut telah diminta melengkapi kamar pasien covid-19, termasuk semua sarana dan prasarannya. Baik itu dokter, perawata, oksigen dan sarana medis lainnya,” jelasnya saat usai menghadiri rapat PPKM mikro.

Ia mengatakan, kondisi pasien di RS rujukan yang ada di Kota Bengkulu sendiri saat ini memang kondisinya rata-rata hampir penuh. Seperti di RSMY Bengkulu, jumlah pasien covid-19 yang dirawat telah mengalami kenaikan sampai 80 persen. Bahkan kamar isolasi tambahan di Gedung Fatmawati RSMY yang telah ditambah 20 kamar, juga sudah mulai penuh.

“Sekarang kita pilah, bagi gejala berat kita terima. Kalau ringan-ringan, kita kembalikan, diisolasi mandiri saja, atau isolasi terpusat. Sedangkan untuk rumah sakit tambahan ini jika akan disiapkan 10 persen dari kapasitas tempat tidur yang ada dirumah sakit tersebut,” ungkapnya.

Ia menambahkan, Pemprov Bengkulu akan mendukung terkait fasilitas rumah sakit swasta ini dengan keterbatasan anggaran mereka. Yang jelas terkait dengan alat pelindung diri (APD), obat- obatan serta kebutuhan dasar lainnya akan disuplay.

“Yang jelas dengan adanya tambahan rumah sakit untuk penanganan Covid 19 ini bisa secepat mungkin menangani kasus positif Covid 19 agar bisa segera mendapatkan penanganan medis,” tuturnya saat itu.

Sementara itu, ia menjelaskan, pemprov juga telah menyiapkan ruang isolasi terpusat di Balai Pelatihan Kesehatan (Bapelkes) Bengkulu. Kondisi saat ini, dari 60 kamar yang disiapkan, sudah terisi sekitar 20 kamar untuk pasien covid-19. Dengan status orang tanpa gejala (OTG) yang di rawat disana.

“Kita berharap dengan diberlakukannya PPKM mikro ini, peningkatan kasus positif harian di kota bisa menurun sehingga rumah sakit tidak over kapasitas lagi nantinya,” tutupnya.

RSHD Wacanakan Penambahan Tenda Darurat

Sementara itu, terkait masih tingginya jumlah pasien positif covid-19 yang hingga kini belum bisa dikendalikan, membuat pihak Rumah Sakit Harapan dan Doa (RSHD) Kota Bengkulu kembali mempersiapkan langkah antisipasi. Salah satunya, mewacanakan penambahan tenda darurat dihalaman rumah sakit agar pasien yang berdatangan tetap bisa terlayani.

” Kita lihat keadaan, kalau memang kasusnya meningkat atau lonjakan terlalu ekstrem mau tak mau harus kita siapkan tempatnya,” kata Direktur RSHD kota, dr Lista Cerlyviera melalui Kasubbag Umum RSHD, Joni Hariyadi, kemarin (6/7).

Ia mengungkapkan kapasitas tempat tidur di RSHD saat ini mencapai 60 kamar, jumlah itupun merupakan kebijakan pihak rumah sakit dengan melakukan pengalihfungsian ruangan yang ada sebagai kamar pasien covid.

” 50 kamar sudah terisi, dan 10 kamar lagi itu kita siapkan untuk kebidanan dan anak/bayi, karena untuk bayi pun ada yang sedang di rawat karena terpapar covid sekitar 3 orang,” ungkap Joni.

Namun yang menjadi pertimbangan pihak RSHD ialah ketersediaan tenaga kesehatan yang sebagian mulai terpapar covid-19, meski tidak mengganggu pelayanan namun hal ini cukup menjadi perhatian bagi pihak rumah sakit sendiri.

” Saat ini sekitar 3-4 orang Nakes terpapar covid. Memang tidak terlalu menghambat pelayanan, karena dengan jumlah pasien yang ada saat ini masih tercover dengan nakes lainnya,” sebut Joni.

Diprediksi potensi penambahan kasus covid bisa terjadi sebelum dan setelah perayaan Idul Adha mendatang, karena terjadinya kerumunan baik dipasar, dan tempat lainnya. Hanya saja, hal itu tidak terjadi jika seluruh masyarakat memperketat protokol kesehatan dan tetap berdiam diri di rumah meski menjelang hari besar keagamaan tersebut.

Disampaikan Joni, selain mempersiapkan tambahan tenda darurat, pihaknya juga memperhatikan kebutuhan penunjang lainnya seperti tabung oksigen dan obat-obatan.

” Sejauh ini masih mencukupi kita dipasok terus 30 tabung per 4 jam. Tapi kalau ada lonjakan kasus dan peralatan terbatas, maka kita minta bantuan dari sekolah-sekolah kesehatan atau fakultas kedokteran dan relawan lainnya,” beber Joni.

Sementara itu, Ketua DPRD kota, Suprianto mengatakan langkah antisipasi harus dipersiapkan mulai dari tenaga kesehatan, ruangan dan alat kesehatannya. Sebab, lonjakan kasus pasien covid tidak bisa dipastikan apakah akan meningkat atau justru menurun.

” Tadi kita sudah cek kesiapan RSHD, dan Insya Allah mereka sudah siap jika kedepan terjadi lonjakan. Tetapi sama-sama kita berdoa agar dalam satu dua hari ini tidak ada lagi tambahan kasus pasien positif,” tutur politisi PAN ini.

Wakil Ketua II DPRD kota, Alamsyah menyoroti jumlah ruangan yang terbatas karena saat ini ruang yang tersedia sudah penuh, sehingga pihaknya mendukung jika nantinya perlu ada tambahan tenda darurat. Sebab, jangan sampai pasien tersebut terbengkalai akibat kekurangan sarana.

“Semua peralatan dan obat memang sudah stanby, cuma masalah ada jumlah ruangan yang cuma 60 kamar. Makanya kita minta antisipasi agar pelayanan terhadap pasien yang datang tetap maksimal,” imbuh Alamsyah. (805/529)