Putra Indonesia di Balik Karya Besar Dunia

Joe TaslimAnda mungkin tidak mengira ternyata banyak putra-putri Indonesia yang mampu bersaing dan menantang dunia lewat karya mereka. Ada yang menjadi digital artist, animator, pemain film menembus Hollywood, penata rias internasional, hingga komikus lokal yang karyanya diakui asing. Nama mereka mungkin tidak setenar Syahrini, Raffi Ahmad, atau jejeran artis dalam negeri lain. Namun mereka ternyata punya andil besar dalam menciptakan kreativitas yang digemari sejagat.

Seperti Ardian Syaf, misalnya. Pemuda asal Tulungagung, Jawa Timur ini ternyata seorang komikus yang karyanya dimuat oleh DC Comics, salah satu label perusahaan yang menerbitkan cerita komik pahlawan super macam Spiderman, Batman, dan lain-lain. Lalu ada Tania Gunadi. Jika Anda ingat film Power Rangers versi baru, tidak akan asing dengan wajah ranger berwarna kuning. Tania berhasil menembus Hollywood dan peran menjadi ranger kuning itu paling fenomenal tahun 2000-an.

Rini Sugianto tersohor sebab menjadi animator utama dalam film kartun Hollywood The Adventure of Tintin. Sementara Joe Taslim, artis pendatang baru Indonesia sukses bermain di film Hollywood, dan yang paling mencengangkan yakni Andre Surya, satu-satunya digital artis dimiliki Indonesia. Lelaki ini muncul di kredit film Iron Man, Star Trek, Terminator Salvation, hingga Transformer.

Menurut animator Wahyu Aditya, pendiri perusahaan HelloMotion juga penggagas HelloFest, sebuah festival film pendek dan animasi di Indonesia, mengatakan dalam satu dekade terakhir perkembangan industri kreatif di negara ini meningkat seiring dengan perkembangan teknologi dan informasi.

“Setiap orang dapat mempelajari teknologi dan memperoleh pengetahuan kreativitas dari Internet. Ini memungkinkan orang luar negeri semacam Amerika Serikat bisa memesan animator dari Indonesia untuk membantu memperkuat project mereka,” tutur lelaki akrab disapa Adit ini.

Selain itu teknologi jaringan juga memungkinkan kreasi bangsa dilirik negara lain. Adit juga memberikan respons positif pada pemerintah Indonesia yang membuat badan formal setingkat kementrian untuk mendukung industri kreatif. “Baru dua negara yang membuat badan ini yakni Inggris dan Indonesia,” ujarnya.

Namun pembentukan badan untuk mengurus industri kreatif ini masih seumur jagung. Langkah awal yang baru bisa dilakukan yakni membaca peta agar bisa menentukan kebutuhan untuk mengembangkan industri kreatif itu. Ini berguna jika ada program pendanaan dari luar negeri agar tepat sasaran. “Sejauh ini alokasi terbesar masih di bidang mode (fashion) dan animasi,” Adit menambahkan.

Menurut lelaki lulusan diploma 3 di Raffles Institute Technology, Kota Sydney, Australia ini, kreativitas tidak terlalu mementingkan bakat asalkan ada minat, banyak teknologi bisa digunakan agar daya cipta berkembang. Indonesia memang mempunyai kuantitas animator kalah jauh dengan negara luar macam Amerika. Jumlahnya hanya puluhan dan itu pun masih harus mendapat tekanan halus agar bisa mencipta segala sesuatu berbau identitas bangsa. Padahal kerja di wilayah kreativitas tidak perlu dibatasi.

“Akhirnya pada sibuk mencari simbol yang mewakili Indonesia. Jadi terkotak,” ujar Adit. Upayanya sebagai salah satu animator negeri ini sederhana yakni menambah jumlah orang yang berkeinginan kuat untuk terjun di bidang desain, khususnya animasi.

Selain kekurangan jumlah, Adit merasa sekolah animasi, ilustrator, atau desainer masih kurang dalam menyusun kurikulum lantaran pengajarnya rata-rata berpengalaman secara otodidak dan bukan teoritis. Jangankan di Indonesia, di Jepang yang maju dengan kartun-kartun biasa disebut anime, hampir sebagian besar dibuat oleh mereka yang tidak punya latar belakang pendidikan desain mumpuni walau hasil gambarnya menakjubkan. Ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah jika memang ingin memajukan industri kreatif.

Selain itu, penegasan dalam pelanggaran hak cipta dan karya original juga perlu diperhatikan. Masih banyak orang yang dengan seenaknya meminjam hasil olahan kreatif orang lain untuk berbagai kepentingan. Seharusnya ini tidak terjadi dan pemerintah harus segera membuat beleid ketat agar karya seseorang bisa terlindungi dengan baik.(**)