Pemkot Tuding Patung Fatmawati Salah Tempat

 

Patung Fatmawati

BENGKULU, Bengkulu Ekspress – Pemerintah Kota Bengkulu mengklaim bahwa pembangunan patung Fatmawati yang dilakukan Pemprov salah tempat. Pasalnya, rencana awal pembangunan patung tersebut diletakkan di bandara Fatmawati Soekarno Padang Kemiling kelurahan Pekan Sabtu.

” Kalau ditanya ke kita (pemkot) sebaiknya patung Fatmawati itu dibangun di bandara Fatmawati sehingga menjadi ikon. Tetapi kenyataannya berbeda,” kata Wakil Walikota, Dedy Wahyudi SE MM, kemarin (12/8).

Hanya saja dikarenakan kurangnya koordinasi yang baik dari Pemprov tentang pembangunan patung tersebut maka Pemkot mau tidak mau harus menerima patung tersebut tetap dibangun di simpang lima yang menggantikan patung kuda. Padahal patung kuda tersebut dibangun pada zaman Walikota Chalik dengan anggaran Rp 1,5 miliar sehingga pemkot merasa dilangkahi atas pembongkaran aset tersebut.

“Memang ini permintaan Yayasan Fatmawati bangun disimpang lima, tapi kata Pak Walikota kalau memang program Gubernur dan pemerintah pusat, ya kita gak bisa menolak,” tandasnya.

Meski sebelumnya sudah disetujui melalui surat, namun ia menyayangkan bahwa tidak ada sosialisasi sebelumnya dari Pemprov kepada Pemkot yang mempunyai wilayah dan aset. Melainkan dilakukan secara mendadak, sehingga pemkot mengaku tidak mengetahui secara pasti seperti apa konsepnya.

 

“Tiba-tiba patung hilang masyarakat marah ya jelas kami gak tahu. Mestinya kita duduk bersama, sehingga bisa tahu konsepnya ada bu fat lagi menjahit atau pakai kerudung kemudian posisinya seperti ini, seperti itu, lalu siapa yang salah sekarang?,” jelas Dedy. Namun karena sudah terlanjur dieksekusi maka pihaknya meminta agar kontraktor yang mengerjakan proyek itu untuk profesional dan harus menampilkan yang lebih baik.

Sementara itu, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bengkulu tetap akan memindahkan patung kuda dari Simpang Lima ke Simpang Empat Betungan Kota Bengkulu. Hal tersebut dilakukan, untuk memberikan daya tarik orang masuk Kota Bengkulu dari wilayah Bengkulu bagian Selatan maupun dari provinsi tetangga.

Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Bengkulu, Nopian Andusti SE MT mengatakan, saat ini proses pemindahan sedang dilakukan pemprov bekerjasama dengan Pemkot Bengkulu. “Tetap di Betungan, jadi kalau orang masuk Bengkulu itu bisa merasakan dengan melihat patung kuda,” terang Nopian kepada BE, kemarin (12/8).

Tidak hanya pertimbangan itu saja, patung kuda juga akan menjadi daya tarik ketika nantinya jalan tol sudah selesai dibangun. Sebab, pintu gerbang jalan tol itu berada di wilayah Betungan. “Itu juga jadi pertimbangan. Jadi setelah kendaraan lewat jalan tol, bisa lihat patung kuda,” tambahnya.

Terkait permintaan senator Ahmad Kenedi untuk meletakan patung kuda di depan Hotel Rafflesia, menurut Nopian hal tersebut wajiar saja sebagai permintaan. Namun demikian, pemprov punya pertimbangan lebih untuk memputusakan patung kuda berada di simpang empat Betungan. “Kalau usulan itu sah-saha saja, tapi kita ada pertimbangan lain,” tegas Nopian.

Sementara itu, terkiat pemindahaan patung kuda yang saat ini sudah di lepas di simpang lima itu, menurut Nopian sudah mendapatkan izin dari Walikota Bengkulu Helmi Hasan. Dengan dasar surat itulah, pemprov melakukan pemindahaan patung kuda tersebut. “Izin dari walikota itu sudah ada. Tentu kalau izin dari walikota sudah ada tidak perlu lagi ada izin lainnya,” paparnya.

 

Untuk di simpang lima itu nantinya, patung kuda akan diganti dengan monumen Ibu Fatmawati dengan biaya Rp 5 miliar dari CSR Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Untuk saat ini, monumen Fatmawati itu sedang dilakukan proses pembuatan yang dilakukan di Kota Bandung. Ketika pembuatan selesai, maka akan langsung dibawa ke Kota Bengkulu.

“Monumen Fatmawati itu sudah dibuat, tinggal lagi finising dan dibawa ke Bengkulu,” ungkap Nopian.

 

Nopian menegaskan, ketika sampai di Bengkulu, tentunya monumen tersebut akan segara diresmikan. Waktunya, tentu akan disesuaikan dengan agenda Presiden dan anak-anak Fatmawati. “Targetnya secepatnya itu di resmikan,” tutupnya. (151/805)