Mantan Camat Bantah Keterlibatan Dalam Kasus Mafia Tanah Lahan Pemkot

Ist/BE – Persidangan mantan Camat Muara Bangkahulu dalam kasus mafia tanah lahan pemkot di Bentiring

Bengkulu, bengkuluekspress.com – Asnawi Amri terdakwa yang terlibat tindak pidana korupsi mafia tanah menjual atau menghilangkan aset korpri yang berlokasi di Kelurahan Bentiring Kota Bengkulu kembali menjalani persidangan dengan agenda penyampaian pembelaan atau pledoi di Pengadilan Negeri Bengkulu, Senin (4/7).

Diungkapkan terdakwa Asnawi Amri yang merupakan mantan Camat Muara Bangkahulu melalui kuasa hukumnya Joni Bastian bahwa pembacaan pembelaan atau pledoi yang dilakukan terdakwa berdasarkan fakta-fakta persidangan dan keterangan para saksi-saksi serta alat bukti yang ada.

Tidak hanya itu dalam pledoi yang digelar di persidangan, Joni Bastian juga menyampaikan bahwa adanya keraguan dari Jaksa Penuntut Umum Kejaksaan Negeri Bengkulu terkait dakwaan yang dibacakan terhadap terdakwa Asnawi Amri.

“Kita sudah bacakan pledoi berdasarkan fakta-fakta dipersidangan dari keterangan saksi-saksi, alat bukti dan saksi ahli. Dari persidangan ini kami simpulkan bahwa klien kami tidak terlibat dan ada keraguan dari pihak jaksa penuntut umum dalam menempatkan terdakwa dalam komisaris PT Tiga Putra Mandiri atau sebagai camat muara bangkahulu,” kata Joni Bastian, usai menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Bengkulu.

Lebih lanjut, disampaikan Joni Bastian. Pihak JPU Kejari Bengkulu dalam hal ini masih ambigu menempatkan posisi terdakwa antara komisaris perusahaan atau sebagai camat Muara Bangkahulu.

Tidak hanya itu, pihaknya juga mempertanyakan hasil audit kerugian negara yang ditimbulkan atas kasus hilangnya aset korpsi yang berlokasi di Kelurahan Bentiring Kota Bengkulu.

“Kami lihat juga kerugian negara yang ditimbulkan dari hasil audit BPKP tidak melampirkan hasil auditnya seperti apa,” ungkap Joni.

Sementara itu JPU Kejari Bengkulu yakni Citra mengatakan, dengan pembacaan pembelaan yang dilakukan oleh terdakwa Asnawi melalui kuasa hukumnya ini. Pihaknya akan menanggapi hal tersebut pada sidang selanjutnya.

“Memang dari terdakwa sudah melakukan pembelaan dalam sidang yang digelar, dan selanjutnya kita akan tanggapi pembelaan yang disampaikan oleh terdakwa melalui kuasa hukumnya,” tutup Citra.

Diketahui pada sidang sebelumnya, JPU Kejari Bengkulu memberikan tuntutan penjara terhadap terdakwa Asnawi lantaran terbukti bersalah dengan tuntutan penjara selama 7 tahun 6 bulan kemudian denda sebesar Rp 400 juta subsider 6 bulan kurungan penjara. Selain itu, terdakwa Asnawi juga terbukti melanggar Pasal 2 Undang-undang tindak pidana korupsi junto pasal 55. (TRI).



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*