Literasi Digital Generasi Muda Indonesia Timur Sangat Dibutuhkan


Ilustrasi

SERANGKAIAN dengan program Penguatan Kecakapan Digital untuk Generasi Muda di Indonesia Timur oleh Jaringan Pegiat Literasi Digital (Japelidi) bekerja sama dengan U.S Consulate General Surabaya, telah diselenggarakan Focus Group Discussion (FGD) secara daring dengan para siswa SMU di 10 Kabupaten, 5 propinsi pada Sabtu (6/11) dan Minggu (7/11).

Sekolah-sekolah yang dipilih adalah SMAN 6 & SMAN 15 Maluku Selatan, SMAN 7 Buru Selatan, SMAN 1 Karang Intan Banjarmasin, SMAN 1 Bati-Bati Kabupaten Tanah Laut, SMAN 1 dan SMAN 14 Gowa, SMAN 1 Pare-Pare, SMAN 2 Amlapura dan SMK PGRI Amlapura Kabupaten Bagli, SMAN 1 Susut, SMAN 2 Bangli, SMKN 1 Bagli, SMAN 1 Komodo Labuan Bajo, dan SMAN 1 Amarasi Barat Kab. Kupang.
“FGD di 5 provinsi ini bertujuan untuk memetakan sekaligus menggali kebutuhan generasi muda daerah Indonesia Timur berkaitan dengan kompetensi literasi digital, “ Papar Ras Amanda – koordinator program.

Program ini selain membawa misi yang sesuai dengan misi Japelidi juga harus mampu membumikan kompetensi literasi digital untuk generasi muda Indonesia Timur.
“Proses FGD sendiri dilakukan secara terpisah di setiap propinsi,” tambah Amanda, dosen Udayana.

Japelidi menurunkan tim FGD yang terdiri dari fasilitator, notulis, dan peneliti. Setiap FGD mengundang 12 siswa di setiap propinsi. Setidaknya 10 fasilitator dari 10 perguruan tinggi, yaitu Dr. Eni Maryani (Unpad), Soraya Fadhal, M.Si (Al Azhar Indonesia), Dr. Lestari Nurhajati (LSPR), Fransiska Desiana (Universitas Katolik Widya Mandira Kupang), Dr. Ras Amanda dan Widiantara, M.Si (Udayana), Dr. Rita Gani (Unisba), Dr. Chitra Rosalin (Universitas Negeri Makasar), Dr. Rini Darmastuti (UKSW), Sri Astuty, M.Si (Universitas Lambung Mangkurat).

Berdasarkan FGD yang dilaksanakan di Maluku diketahui bahwa penggunaan smartphone umumnya sudah dimuai sejak Sekolah Dasar (SD), seperti pengakuan Fitriyanti, siswa dari SMAN 15, Maluku Tengah, berikut, “Saya pertama kali menggunakan media digital itu dari sejak SD, ketika pertama menggunakan HP (hand phone), untuk mencari tugas dan bermain sosmed Facebook langsung lanjut ke WhatsApp, ” katanya.

Penggunaan HP setiap harinya cukup tinggi, semua peserta mengaku menggunakan HP sejak dari bangun tidur sampai mereka akan tidur kembali. Kecuali saat sekolah, jika ada larangan penggunaan HP di sekolah seperti yang diberlakukan di SMAN 7, Buru Selatan.
Pengalaman menarik disampaikan oleh tim FGD di NTT, Fransiska Desiana Setyaningsih dari Universitas Katolik Widya Mandira Kupang, “Kami senang sekali karena siswa-siswa di NTT sini berani mengemukakan pendapat dan juga pengalamannya,” katanya.

Sedangkan fasilitator FGD, Dr. Lestari Nurhajati mengemukakan temuan tertarik dengan pendalaman tentang mendesain Konten Kampanye Etika, Budaya dan Aman bermedia digital.
“Pilar skill mereka tidak bermasalah. Tapi kita akan analisis dahulu lebih dalam.” Imbuh Lestari, dosen Institut Komunikasi dan Bisnis LSPR lebih lanjut.
Stefany M Daynti dari SMAN 1 Komodo Labuan Bajo menyampaikan harapannya perlu adanya pengawasan orang tua agar anak di bawah umur tidak salah menggunakan media digital, dan membuka konten yang negatif di media online. “Sehingga orang tua juga perlu paham literasi digital”, ujarnya.

Program dengan tajuk Empowering Eastern Indonesia Youth in Digital World sendiri sebelumnya telah diluncurkan awal Oktober lalu secara daring dan akan berlangsung hingga Mei 2022 mendatang. Serangkaian program telah dipersiapkan untuk para siswa di 10 kabupaten. “Setelah FGD akan disusun modul dan kemudian dilanjutkan dengan pelatihan untuk siswa-siswa di 10 kabupaten tersebut,” katanya.

Temuan-temuan hasil FGD dari berbagai propinsi itu akan didiskusikan lebih lanjut antara tim FGD dan tim Penulisan Modul dalam workshop. “Kami tim modul akan berusaha membuat modul yang efektif sesuai dengan kebutuhan generasi muda di Indonesia Timur, “ Aku Frida Kusumastuti, salah satu penulis modul dari Universitas Muhammadiyah Malang. (*/rl)