LINTANG dan LUNA

Karya Alfarabi Syarif

 

Pagi ini Lintang bangun dengan semangat. Ia tidak rewel ketika dibangunkan. Selesai mandi langsung sarapan nasi goreng yang telah disiapkan. Ia makan sambil memandangi wajah ibunya. Sesekali tertawa sambil memegang hidung perempuan yang ia kasihi itu. Pagi ini sebuah hari yang baru bagi Lintang. Obrolan beberapa malam sebelum tidur telah membuatnya memahami sesuatu.

**

“Ibu, di sekolah Lintang ada anak Cina gitu. Perempuan. Matanya sipit. Terus dia dipanggil sipit sipit gitu deh.”

“Terus, Lintang ikut manggil juga?”

“Iya, soalnya mukanya lucu hihihi.”

“Oh lucu, Lintang juga kan lucu, badannya endut. Kalau Lintang dipanggil endut mau gak?”

Nggak boleh,” muka Lintang berubah cemberut, “Kan Lintang nanti makannya sedikit.”

“Kenapa Lintang gak mau dipanggil endut?”

“Malu Bu.. nanti orang-orang manggil endut semua”

“Oh… kalau malu, terus kira-kira temen Lintang yang dipanggil sipit malu juga gak?”

“Gak tau, Lintang gak temenan”

“Terus kalau dia malu gimana? Lintang gak kasihan?”

Lintang terdiam.  Istriku mencium pipi Lintang yang menggemaskan. 

“Namanya siapa?”

Gak tau, Lintang taunya sipit aja

“Ya udah, besok Lintang tanya namanya siapa. Sekarang tidur ya.”

Lintang anakku satu-satunya. Usianya 10 tahun. kini sedang bersekolah kelas 3 sekolah dasar. Ia seorang pencerita. Semua hal yang ia dapatkan di sekolah diceritakan pada ibunya. Luna istriku mengajari Lintang dari kecil untuk selalu terbuka pada kami. “Biar gak kayak ayahnya,” begitu alasan istriku membiasakan Lintang untuk bercerita. Sepenggal obrolan di atas adalah cerita Lintang tentang teman barunya di sekolah. Cerita itu sekitar 2 minggu yang lalu.

Malam berikutnya Lintang melanjutkan ceritanya.

“Ibu si Linlin tadi bawa jeruk ke sekolah, terus dibagi-bagi. Lintang dapat satu bagi dua dengan Putra”.

“Oh baik sekali, si Linlin itu yang mana ya? Kok Ibu gak pernah dengar?”

“Itu loh Bu, yang sipit itu.”

“Oh yang itu. Mulai sekarang Lintang manggilnya Linlin ya, jangan sipit lagi”

 “Iya Bu, eh Bu tadi temen-temen pada rebutan ngambil jeruknya. Linlin sampe gak kebagian. Tapi Linlinnya gak nangis. Ambil saja, ambil saja gitu katanya”

“Hehe.. Berarti besok Lintang juga berbagi makanan ke Linlin kalau punya makanan”

“Eh he, nanti Lintang makannya kurang, kan di sekolah kata ibu gak boleh jajan sembarangan”

“Dikasih sedikit saja, nanti ibu buat bekalnya lebih”

Lintang mengangguk tanda setuju. Cerita Linlin ini terus mewarnai malam-malam sebelum tidur Lintang. Aku yang sibuk dengan laptopku tanpa sengaja terus merekam obrolan menjelang tidur tersebut. Tapi sampai beberapa malam Lintang tidak lagi bercerita tentang Linlin. Sudah 3 malam ini ia minta diceritakan dongeng oleh ibunya. Mungkin tak ada yang menarik lagi untuk diceritakan. Tapi istriku sepertinya memahami situasi yang terjadi pada teman baru Lintang tersebut.

“Lintang, gimana kabar si Linlin? Kok Ibu gak pernah dengar ceritanya lagi?”

Lintang membisu. 

“Loh kok anak Ibu ditanya malah diem, kenapa?”

“Lintang gak mau berteman sama Linlin Bu”

“Emangnya kenapa?”

“Linlin itu Cina, gak sholat”

Duar! Aku mengalihkan pandanganku dari monitor. Mataku bertemu dengan mata istriku. 

Luna menarik nafas panjang. 

Lalu dengan tersenyum..

“Loh Lintang, tau dari mana?”

“Kemarin Redy mau minta kue sama Linlin, tapi gak dikasih. Linlin bilang dia cuma bawa makanan sedikit. Terus si Redy bilang ‘dasar pelit’. Cina.. Cina… Temen-temen juga ikutan manggil Cina Cina.”

“Terus Lintang ikutan manggil Cina juga?” Luna memandang tajam mata Lintang

“Iya bu. Kan yang lain juga manggil gitu. Terus kata Redy Cina itu gak shalat. Kan kata Ibu kalau gak shalat masuk neraka”.

“Terus Linlinnya nangis?”

“Linlinnya nangis. Duduk aja di meja. Pas guru masuk baru berenti

“Terus Redy dihukum?”

“Nggak, kan gak ada yang bilang”

“Lintang, kalau misalnya ibu dikata-katain di kelas kayak Linlin, Lintang mau bela Ibu?”

Lintang ragu untuk menjawab.ia memandang wajah ibunya.

“Redy badannya gede, Bu. Temen-temen di kelas takut ama dia”

“Terus Ibu gimana? Berarti gak ada yang bela ibu dong. Wah kasihan sekali ibu ya. Gak ada yang sayang sama Ibu.”

“Lintang sayang sama Ibu,”Cepat suara Lintang menyambut

“Tapi Lintang diam saja”

“Lintang bela Ibu, nanti Lintang lawan Redy”

“Terus si Linlin gak dibela juga? Kan dia sama ibu sama-sama dikata-katain”.

“Tapi Linlin gak Sholat, Bu”

Loh kan kita membela orang yang dijahilin. Emangnya Lintang tau agama sopir sekolah, mbak-mbak supermarket, guru les. Mereka semua bantu Lintang tanpa nanya agama Lintang apa. lagian Linlin itu sholat kok. Tapi tempatnya beda.”

Lintang diam. Ia merasa apa yang dikatakan ibunya benar.

“ Iya bu, tapi nanti Lintang lapor ibu guru aja. Soalnya Lintang masih takut sama Redy”

“Iya gak apa. Itu juga sudah baik, ” balas Luna sambil memeluk Lintang

“Ah ibu… udah, Lintang kan sudah besar.”

Aku yang mendengar cerita Lintang menarik nafas panjang. Begitu cepatkah isu agama memasuki pikiran anak-anak. Seingatku dari dulu hal ini memang sudah ada. Namun mendengar cerita Lintang tentang ini membuatku bergidik juga. Apakah ini imbas dari polarisasi agama yang banyak disajikan di televisi. Betapa persinggungan itu semakin dekat. Pagi hari setelah mengantar Lintang sekolah aku kembali ke rumah dan mengobrol dengan Luna tentang cerita semalam. 

***

Siang hari Lintang pulang. 

“Ibu, tadi Lintang ribut sama Redy”

“Oh kenapa?” Reflek Luna memperhatikan seluruh tubuh Lintang. Ia lega ketika mendapatkan tidak ada sesuatu yang harus dikhawatirkan.

“Redy nyembunyiin tas Linlin pas mau pulang sekolah. Linlin nangis. Temen-temen pada nonton. Terus Lintang inget kata ibu. Terus Lintang bilang aja ‘eh Redy balikin tasnya Linlin, kasihan diakan mau pulang’. Redynya malah bilang wiih si Lintang pacaran sama Linlin suit wit. Temen-temen pada ketawa terus pada ikut ngatain juga. Lintang  bilang bukan, Lintang gak pacaran. Tapi kita gak boleh usil ama teman. Coba nanti kalau tasnya disembuyiin apa pada mau?”

“Wah anak Ibu keren.”  Lintang tersenyum gembira mendapat pujian dari ibunya.

“Terus Lintang omong kalau tasnya gak dibalikin nanti Lintang lapor sama ibu guru. Terus temen-temen yang lain pada bilang ‘Redy cepetan balikin nanti dihukum loh”. Terus tasnya dibalikin ke Linlin”

“Wah hebat. Lintang sudah berbuat satu kebaikan. Ibu bangga sama Lintang”, Luna langsung memeluk dan mencium Lintang.

“Tapi Bu, entar temen-temen nyangkanya Lintang pacaran sama Linlin. Lintang malu Bu.”

Eng.. gak, masa masih kecil-kecil udah pacar-pacaran. Ngerti aja nggak. Itu mah main-main aja

“Tapi Lintang juga takut besok-besok Redynya marah sama Lintang”

“Lintang takut sama Redy?” Tanya Luna sambil memandang Lintang. Lintang menunduk dan mengangguk.

“Tenang aja. Kalau Redy macam-macam, Lintang lapor ibu guru. Kalau belum juga biar ibu yang datang ke sekolah. Kalau belum juga, nanti ayah yang pergi ke sana.”Jawab Luna dengan nada semangat.

Lintang memandang Luna, lalu mengalihkan pandangannya pada diriku. Sambil memalingkan wajahnya ia berkata

“Ibu aja,” katanya sambil memeluk Luna

***

 

Penulis tinggal di Kota Bengkulu dan dapat dihubungi pada e-mail:alfarabialfa@gmail.com