Kasus Gantung Diri Diusut, Kakanwil Kemenkumham Sebut Sudah Sesuai SOP

Ist/BE – Kakanwil Kemenkumham Bengkulu, Erfan

Bengkulu, bengkuluekspress.com – Kepala Kanwil Kememkumham Bengkulu, Erfan menjelaskan terkait sebab kematian yang diduga gantung diri oleh salah satu anak didik yang berada di Lembaga Pengawasan Khusus Anak (LPKA) Kelas IIA Bengkulu.

Dikatakan Erfan, pihak LPKA Kelas IIA Bengkulu telah menjalankan tugas sesuai dengan Standard Operating Procedure (SOP) yang ada dalam menangani anak didik bernama Yogi Yosdian (18) merupakan warga Desa Bukit Makmur, Muara Sahung Kabupaten Kaur yang meninggal dunia karena gantung diri.

“Sudah melakukan SOP yang betul, pihak keluarga juga sudah menerima. Berdasarkan hasil visum tidak ada tanda kekerasan terhadap yang bersangkutan. Tetapi ada bekas jeratan dileher lantaran korban melakukan gantung diri,” kata Erfan, Rabu (6/7)

Ia menambahkan, terkait penyelidikan yang saat ini tengah berproses di pihak kepolisian, merupakan kewenangan kepolisian. Namun, untuk di Kanwil Kemenkumham sendiri langkah yang diambil oleh petugas lapas sudah sesuai aturan.

“Silakan saja itu kewenangan dia tapi yang jelas dari pihak LPKA sudah ada serah terima pada pihak keluarga dan pihak keluarga sudah menerima dan tidak mau dilakukan otopsi,” ungkapnya.

Efran juga menegaskan, berdasarkan hasil visum terhadap korban Yogi menunjukan bahwa tidak terbukti adanya kekerasan terhadap yang bersangkutan yang dilakukan oleh petugas.

Sementara, terkait pengantaran korban ke rumah sakit yang tidak dilakukan oleh tim Inafis juga ikut diklarifikasi oleh Kakanwil Kemenkum Ham Bengkulu, Erfan.

Ia menjelaskan, saat pengantaran korban ke rumah sakit suhu tubuh korban masih hangat dan kemungkinan untuk dapat diselamatkan. Sehingga petugas lapas LPKA Kelas II A Bengkulu berinisiatif menurunkan korban kemudian membawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan dari pihak medis.

“Terkait pengantaran korban ke rumah sakit, pihak LPKA mengantarkan lantaran yang bersangkutan masih dalam keadaan hangat dan masih ada kemungkinan yang bersangkutan bisa diselamatkan. Hingga diambil langkah supaya untuk diambil tindakan. Kalau kita menunggu dan ternyata yang bersangkutan masih hidup maka itu melanggar HAM .Jadi inisatif untuk mengambil langkah-langkah tersebut dengan harapan bisa selamat,” tutup Erfan.

Disisi lain secara terpisah, Kasat Reskrim Polres Bengkulu AKP Welliwanto Malau sebelumnya mengatakan, diduga bahwa korban Yogi telah meninggal dunia dalam kurun waktu 8 hingga 12 jam. Hal itupun dikuatkan dengan hasil visum yang diterima oleh pihak kepolisian dari pihak rumah sakit.

Selain itu, dari hasil visum ditemukan adanya jeratan gantung diri di leher yang menggunakan tali celana serta ada ditemukan lebam di bagian tubuh korban.

“Kemarin hasil visum sudah keluar dan kita sudah melakukan penyelidikan apa sebab kematian anak didik di lapas tersebut. Jadi kita akan memproses secara penyelidikan awal mula dan kita minta agar hal ini dapat didukung oleh pihak lapas atas kerja dan tugas kami dalam melaksanakan penyelidikan,” tutup AKP Welliwanto Malau.

Diketahui, korban Yogi yang merupakan pindahan dari Rutan Manna Kabupaten Bengkulu Selatan dan baru 1 hari Pindah ke Lapas Anak Kota Bengkulu. Pada sabtu (11/6) korban Yogi ditemukan meninggal dunia dengan keadaan gantung diri didalam lapas anak. Berdasarkan keterangan petugas kesehatan Lapas, saat tiba di Lapas kondisi korban tidak memiliki riwayat penyakit. (TRI).