Harga Lada Menurun Drastis

sayuran lada
Foto : IST

KEPAHIANG, Bengkulu Ekspress – Petani lada atau sahang di Kabupaten Kepahiang saat ini, lesuh. Sebab selain hasil panen yang kurang, turunnya harga jual lada juga menjadi kendala. Jika tahun lalu harga lada dipatok mencapai Rp 60 ribu/kg, namun saat ini tinggal Rp 28 ribu/kg.

Yanto (29), petani lada Desa Gunung Agung Kecamatan Bermani Ilir Kepahiang menuturkan, jika dibandingkan tahun lalu, maka hasil panen lada menurun drastis. Bahkan penyusutan mencapai 50 persen, sehingga membuat dirinya lesu menyambut musim panen tahun ini. “Kalau tahun lalu dengan luasan lahan yang saya kelola, hasil panen sebanyak 450 kg. Namun tahun ini hasil separohnya untung dapat,” ujarnya.



Ia mengaku, tak mengetahui faktor penyebab minimnya hasil panen lada tahun ini. Karena petani hanya menanam lada dengan kemampuan seadanya. Tanpa mengetahui teknologi cara bercocok tanam lada, perawatan yang dilakukan dinilai sudah maksimal. Seperti membersihkan lahan ataupun memberikan pupuk pada tanaman lada tersebut.

“Sekarang juga harganya sudah rendah tinggal Rp 28 ribu, kita sebagai petani pasrah saja,” ucapnya.

Menurutnya, di Kabupaten Kepahiang ada dua jenis lada yang ditanam petani. Yaitu lada kecil dengan sebaran merata di seluruh wilayah dan kedua lada besar atau lada baru (Untuk Kepahiang, red) yang banyak dikembangkan atau ditanam petani diwilayah Kecamatan Seberang Musi.

“Panen tidak berbarengan, untuk lada kecil bulan 7 sudah mulai panen, sementara lada besar panen bulan 9. Untuk hasil sama, petani lesu tahun ini karena hasil penan sedikit,” tuturnya.

Pudin (46), petani lada di kawasan Rimbo Donok Kecamatan Tebat Karai mengakui hal serupa. Karena panen sahangnya tahun ini hanya didapat kisaran puluhan kilo. Jauh berbeda dibandingkan tahun lalu dengan hasil mencapai ratusn kilo untuk kebun yang dikelolanya.

“Saya tidak tahu kendalanya, mungkin karena cuaca panas hingga menyebabkan buah kurang atau cara tanam kami yang belum bagus,” ucapnya.

Iapun berharap, jika ada pelatihan dari pemerintah terkait dengan cara mengelola dan menanam lada. “Kalau selama ini belum saya ikut, karena memang tidak tahu jika adanya program seperti itu. Kita tidak pernah mendapatkan pemberitahuannya,” tutur Pudin. (320)