Dosen UT Bengkulu Latih Pelaku Usaha Kerupuk Rambak

IST/BE
Dosen UT saat memberikan bantuan hibah secara simbolis kepada pelaku usaha kerupuk rambak di Desa Marga Bhakti Bengkulu Utara.

BENGKULU, BE – Tim Universitas Terbuka (UT) Bengkulu memberikan pelatihan Manjemen Usaha dan Pendampingan Pengurusan Ijin Industri Rumah Tangga (PIRT) kepada pelaku usaha Kerupuk Rambak Citra Rasa di Desa Marga Bhakti Kecamatan Ketahun Kabupaten Bengkulu Utara. Pelatihan tersebut dilakukan sebagai salah satu bentuk pengabdian kepada masyarakat (PKM).

Ketua Tim PKM sekaligus Dosen Hukum UT, M Jeffri Arlinandes Chandra SH MH mengatakan, pihaknya telah melaksanakan kegiatan pemberdayaan masyarakat pada 20 – 21 Mei 2022 dengan memberikan pelatihan dan edukasi kepada salah satu pelaku usaha mikro yang bergerak dibidang pengolahan kerupuk rambak di Bengkulu Utara. Pelatihan dan edukasi tersebut diberikan guna mendorong pelaku usaha ini agar dapat semakin berkembang dan mampu meningkatkan perekonomian keluarga, desa, dan daerah.

“Kita sudah berikan pelatihan mengenai manajemen usaha dengan menawarkan variasi kemasan,desain produk dan varian rasa pada kerupuk rambak yang diproduksi, harapkan pelatihan dan edukasi tersebut bisa meningkatkan produksi dan perekonomian pelaku usaha dan lingkungan sekitar,” kata Jeffri, kemarin (22/5).

Jeffri menjelaskan, Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PkM) berkolaborasi dengan 5 orang anggota terdiri dosen dan mahasiswa UT yakni Drs Syahriman MPd (FKIP UNIB), Iswidana Utama Putra SE MM (FE Dehasen), Mimi Kurnia Nengsih SE MM (FE UMB), Sinthya Septriani Chandra (Mahasiswa Ilmu Hukum UT), dan M Iqbal Fahlevi Chandra (Mahasiswa Ilmu Pemerintahan UT), Tim tersebut memberikan pelatihan dan edukasi berupa manajemen usaha dari mulai proses produksi hingga pemasaran. Pelatihan dan edukasi tersebut dilakukan mengingat selama ini manajemen usaha yang diterapkan oleh usaha kerupuk rambak ini masih sangat tradisional.

“Kita latih manajemen usaha mereka menjadi lebih baik mulai dari melakukan inovasi rasa pada kerupuk rambak seperti rasa jagung dan balado hingga memproduksi kerupuk rambak dengan memanfaatkan teknologi,” jelas Jeffri.

Jeffri mengaku, selain memberikan pelatihan, pihaknya juga memberikan bantuan hibah berupa alat-alat produksi seperti alat pengering dan pemotong kerupuk rambak. Bantuan tersebut diberikan mengingat selama ini proses produksi kerupuk rambak seringkali terhambat jika musim hujan tiba. Banyak kerupuk rambak tidak bisa dibuat karena kondisinya basah dan tidak kering. Lantaran satu-satunya sumber pengering kerupuk rambak adalah bantuan sinar matahari.

“Selama ini kalau mereka mau mengeringkan kerupuk itu dijemur dibawah sinar matahari, tapi kalau hujan mereka berhenti produksi kerupuk rambak. Solusinya kami berikan bantuan hibah berupa oven untuk mengeringkan kerupuk rambak tersebut,” tutur Jeffri.

Selain mesin pengering, Jeffri mengaku, pihaknya juga memberikan bantuan berupa mesin pemotong kerupuk. Selama ini pemotongan kerupuk masih dilakukan secara manual dengan diiris menggunakan pisau. Dengan adanya mesin pemotong ini, maka proses pemotongan dapat lebih cepat sehingga proses produksi menjadi lebih efektif dan efisien.

“Kita berikan bantuan mesin pemotong kerupuk, kan sebelum jadi kerupuk, adonan kerupuk rambak itu berupa lontong, lontong itu dipotong atau diiris pakai pisau, itu memakan waktu dan tidak efektif. Kami berikan bantuan mesin pemotong ini agar proses pembuatan kerupuk menjadi lebih cepat,” ujar Jeffri.

Jeffri berharap, pelatihan dan pemberian bantuan hibah tersebut dapat meningkatkan hasil produksi usaha kerupuk rambak dengan maksimal. Sehingga bisa meningkatkan pendapatan dan mendorong pelaku usaha untuk dapat naik kelas.

“Kita harapkan pengabdian kepada masyarakat ini bisa mendorong kemajuan pelaku usaha khususnya usaha kerupuk rambak di daerah,” tutupnya.(999)



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*