Dewan Minta Pemprov Lakukan Harmonisasi Hulu dan Hilir untuk Tangani Banjir

Foto Suary/BE : Usin Abdiyah Putra Sembiring Anggota DPRD provinsi Komisi II saat diwawancarai wartawan dikantornya.

Bengkulu, bengkuluekspress.com – Anggota DPRD Provinsi Bengkulu Usin Abdisyah Putra Sembiring, SH., mengatakan Pemerintah Provinsi Bengkulu perlu melakukan harmonisasi antara Pemprov dengan Pemkab Bengkulu Tengah serta Pemkot Bengkulu untuk penanggulangan banjir di Bengkulu.

Menurutnya persoalan ini tidak bisa dilakukan secara sendiri – sendiri oleh Pemerintah Kota yang berada di wilayah hilir maupun Pemkab Benteng di wilayah hulu, sehingga Pemprov harus mampu mensinkronkan perencanaan penanggulangan dari hulu sampai hilir, jika tidak bencana banjir akan selalu berulang setiap curah hujan meningkat.

“Kita dari dulu teriak soal banjir, agar Pemerintah Provinsi melakukan harmonisasi dengan Pemkab Benteng dan Pemkot karena persoalan ini dari hulu kehilir, jika tidak akan terus berulang kejadian banjir minimal satu kali dalam setahun bahkan terkadang lebih,” ungkao Usin saat diwawancarai diruangannya, Kamis (30/6).

Usin menjelaskan, ada dua faktor yang menyebabkan banjir di Bengkulu, pertama memang karena adanya intesitas hujan yang sering kali tinggi karena secara geografis berbatasan langsung dengan samudera hindia dan kedua karena kiriman dari hulu yaitu Kabupaten Benteng karena daya tampung dan daya serap yang sudah tidak memadai lagi di kawasan hulu.

“Ada dua persoalan banjir di Bengkulu, pertama berasal dari kondisi intensitas hujan dan kedua berasal dari kiriman dari daerah wilayah pegunungan di Benteng sehingga daya tampungnya tidak memadai lagi di wilayah pegunungan di Benteng,” ujar Usin.

Usin menjelaskan daya tampung dan daya serap yang tidak memadai dihulu diakibatkan karena adanya eksploitasi batu bara secara masif yang tidak didukung dengan dengan upaya reboisasi hutan disekitarnya serta reklamasi bekas lobang tambang yang tidak berjalan membuat seluruh curah hujan dihulu langsung mengalir ke hilir.

“Eksploitasi besar – besaran di kawasan Benteng oleh pertambangan Batu Bara menghancurkan daya tampung hutan disana, yang seharusnya direklamasi tapi tidak berjalan,” jelas Usin.

Sedangkan di hilir yaitu Kota Bengkulu adanya persoalan lain, yaitu sistem darinase yang beralih fungsi menjadi tempat sampah dan daya serap yang tidak memadai disepanjang pinggiran sungai di Kota Bengkulu.

“Kemudian di Kota Bengkulu juga ada masalahnya, karena drainase kita jadi tempat buangan sampah dan tidak adanya daya serap yang baik di Kota Bengkulu,” tutup Usin.(CW2/Suary/adv).



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*