Cerita “Jual Tikam” di Sumbagsel: Sebuah Pilihan Hidup atau Mati

Oleh : Agustam Rachman, MAPS*

Awal Januari 1950 seorang yang bernama Sardan dari Lampung Pesisir (sekarang Lampung Selatan) datang ke Desa Kuripan Haji, Kabupaten OKU Selatan Propinsi Sumatera Selatan.

Sardan bukan datang untuk berkebun atau berladang seperti tujuan perantau pada umumnya.

Dia datang bertepatan dengan musim paceklik hebat yang melanda daerah Lampung waktu itu.

Situasi itu diperparah dengan kondisi ekonomi Indonesia yang secara umum sangat sulit mengingat Indonesia berusia 5 tahun sejak Proklamasi “45.

Waktu itu untuk membeli beraspun susah, tak jarang warga terpaksa mengkonsumsi oyek dan gaplek yang terbuat dari ubi sebagai pengganti nasi. Bahkan sering terdengar ada warga yang keracunan karena memakan umbi gadung (bahasa latinnya Dioscorea Hispida Deenst)

Kembali ke Sardan, dia menumpang di salah-satu rumah warga Kuripan. Dia menyampaikan maksudnya bahwa dia akan mengajar Kuntaw atau Silat jika ada yang bersedia menjadi muridnya. Ternyata mengajar Silat merupakan mata pencaharian pokok bagi Sardan khususnya di musim paceklik.

Puluhan orang mendaftar menjadi muridnya, sebut saja ada Haji Batu (Ayah Guru Ali) dan Somad Cinegeri.
Bayarannya juga tidak mahal, Sardan tidak pernah mematok tarif, muridnya boleh membayar dengan uang, biji kopi kering atau beras sesuai kemampuan murid.

Selama 40 malam Sardan mengajar Silat tanpa lelah. Di siang hari dia berkeliling ke desa-desa terdekat lainnya misal Desa Surabaya, Sukarena dan Karang Pendeta untuk mencari uang tambahan dengan “Jual Tikam” sebagai bekal pulang ke Lampung.

“Jual Tikam” adalah profesi lain dari Sardan selain mengajar Silat, jika ada orang yang berminat “membeli” maka dibuat kesepakatan lisan dimana orang boleh menikam Sardan dan jika Sardan tidak luka atau binasa maka si penikam wajib memberi bayaran pada Sardan.

Waktu itu Sardan memasang tarif senilai 50 kg biji kopi kering untuk sekali menikam dirinya.

Pisau atau senjata yang digunakan bebas, boleh cap garpu, keris,tombak, pedang atau senjata lainnya.

Sardan tidak bermaksud sombong atas apa yang dikerjakan. Hal itu semata-mata karena kebutuhan hidup untuk menafkahi keluarganya. Mengingat keterampilan Sardan hanya itu.

Tercatat banyak orang yang memiliki ilmu kebal senjata tajam waktu itu misalnya ada Jamsak dan Antan dari Desa Surabaya Haji yang juga pernah “menjual” kekebalannya untuk mencari uang.

Jika ada pekerjaan lain yang lebih baik tentu orang-orang seperti Sardan tidak akan memilih “Jual Tikam” sebagai profesinya.(**)

 

*Penulis adalah Pengamat Budaya, Menetap di Yogyakarta