Bengkulu Defisit 31 Ribu Ton Padi 

TERBENGKALAI: Sawah di Desa Ganjuh, Pino ini terbengkalai lantaran tidak digenangi air sehingga tidak bisa digarap.

Bengkulu, bengkuluekspress.com – Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) bahwa Provinsi Bengkulu indeks pertanaman Bengkulu masih dibawah IP 100 atau mengalami defisit padi hingga 31 ribu ton.

“Berdasarkan Data BPS kita mengalami defisit Padi lebih kurang 31.000 Ton, karena indeks pertanaman kita masih dibawah IP 100 dan kita berusaha agar rata – rata indeks nya bisa menjadi IP 200,” ungkap Kepala Dinas Tanaman Pangan Holtikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Bengkulu Ricky Gunarwan, Jum’at (24/6).

Ricky menjelaskan, hal itu disebabkan dari luas lahan 100.000 hektare saat ini mengalami penyusutan hingga tinggal 50.000 hektare. Saat ini pihaknya juga mendorong agar pemerintah kabupaten membuat peraturan daerah untuk mencegah alih fungsi lahan pertanian produktif.

“Memang lahan kita dari bahan baku 100.000 ha menjadi 50.000 ha, kita minta agar para Bupati agar membuat Perda untuk tidak dilakukannya alih fungsi lahan produksi,” ujarnya.

Menurutnya defisit tersebut dikarenakan banyak lahan pertanian yang belum optimal. Saat ini pihaknya sedang melakukan upaya peningkatan hingga mampu menghasilkan 4 ton per hektarenya maka dari 50.000 ha akan mencapai produksi hingga 200.000 ton sehingga tercapai swasembada padi.

Untuk itu menurut Ricky saat ini pihaknya berusaha melakukan perbaikan terhadap penyediaan bibit, ketersediaan pupuk dan juga sarana produksi seperti alat fungsi pertanian serta jaringan irigasi sehingga mampu mencapai indeks pertanaman IP 200.

“Luas bahan baku kita ada 50.000 ha, jika rata – rata per hektare 4 ton maka bisa menghasilkan 200 ribu ton dan kita bisa swasembada pangan. Kita sedang berusaha memperbaiki penyediaan benih, pupuk, sarana produksi baik alat fungsi pertanian kemudian irigasi agar indeks pertanamannya bisa IP 200,” jelas Ricky.

Selain itu juga karena banyak jaringan irigasi untuk persawahan rusak dan saat ini pihaknya juga akan berkoordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera VII untuk melakukan perbaikan jaringan irigasi yang rusak.

“Luas lahan kita belum ada peningkatan bahkan ada beberapa jaringan irigasi yang rusak dibeberapa daerah dan belum bisa ditanami, kita akan berkoordinasi dengan BWS untuk memperbaiki hal tersebut,” kata Ricky.

Ricky juga mengatakan akan melakukan peningkatan produksi padi khususnya diwilayah potensial salah satunya Kabupaten Lebong dan beberapa wilayah indeks pertanamannya sudah mencapai IP 200, akan tetapi hal itu masih jauh dari Pulau Jawa yang sudah mencapai IP 400.

“Kita akan terus meningkatkan khususnya untuk wilayah potensial seperti Lebong indeks nya sekarang sudah meningkat begitu juga dengan beberapa daerah juga mengalami peningkatan hingga IP 200 dan kita harapkan bisa mencapai IP 300, Dijawa hari ini indeks pertanaman sudah mencapai IP 400,” tutup Ricky.(CW2/Suary).



    Leave a Reply

    Your email address will not be published.*