BENCANA LANDA 4 KABUPATEN

Sebuah mobil macet di tengah genangan air di Jalan Mura Kelurahan Batu Galing Kecamatan Curup Tengah.

BENGKULU, BE – Bencana demi bencana seakan tak mau pergi dari Provinsi Bengkulu. Setelah sempat dilanda gempa 5,9 SR, kali ini bencana melanda Tanah Rejang. Banjir, hingga longsor menyasar ke 4 kabupaten; Bengkulu Utara, Rejang Lebong, Lebong dan Kepahiang. Kejadian itu menyebabkan 2 orang tewas, puluhan rumah terendam, sawah dan ladang cabe terancam gagal panen. Seperti di Bengkulu Utara, longsoran tanah Air Kotok, Desa Tanjung Agung Palik Kecamatan Air Besi, kemarin, menimbun 3 pekerja pembuatan pipa saluran irigasi dari proyek PNPM. 2 orang tewas tanah sedalam 4 meter. Dua orang korban tewas tersebut adalah Bung (54) warga Curup-Rejang Lebong dan Hardi (27) warga desa Tanjung Agung Palik. Sedangkan korban yang selamat dari peristiwa maut tersebut adalah Sriwijaya (54) warga desa Tanjung Agung Palik. Kejadian tertimbun longsor yang dialami oleh para pekerja terjadi sekitar pukul 14.00 WIB. Sontak saja peristiwa tersebut mengakibatkan kehebohan di lokasi desa, karena empat orang pekerja lainnya yang berada di satu lokasi dengan para korban langsung meminta bantuan kepada masyarakat desa setempat untuk melakukan evakuasi.

Dari penuturan Sriwijaya korban yang selama dalam peristiwa tersebut, kejadian tragis yang dialaminya bersama dua orang rekannya yang meninggal dunia terjadi begitu cepat. Pada saat itu, mereka melakukan pemasangan pipa ukuran besar yang diperuntukkan sebagai saluran irigasi di desa tersebut. Saat mereka memasang, tiba-tiba saja galian tanah sedalam empat meter langsung menyempit dan tanah yang ada diatas mereka langsung longsor dan mengubur ketiganya. Bahkan , korban Sriwijaya hanya bisa mengingat bahwa kondisi sekeliling menjadi gelap dan untuk bernafas sangat sulit. “Tanah mengubur kami sekitar 2 meter dalam posisi berdiri, setelah itu keadaan semuanya menjadi gelap. Bahkan selama hampir 1 jam saya terkubur dalam posisi berdiri dan hanya bernafas dengan menggunakan mulut ” beber Sriwijaya.

Saat terjadinya peristiwa tersebut, para pekerja lainnya yang mengetahui kejadian tersebut karena tidak jauh dari lokasi kejadian langsung mencoba memberikan pertolongan. Ketiga orang tersebut sudah tidak kelihatan lagi karena hanya tumpukan tanah yang kelihatan.Akhirnya Hasbi rekan korban menghubungi warga desa dengan menggunakan HP untuk memberikan pertolongan. Warga yang mengetahui kejadian tersebut langsung berdatangan ke lokasi kejadian yang berjarak sekitar 2 Km dari jalam raya. Setibanya dilokasi, para warga langsung melakukan penggalian tanah untuk mengeluarkan para korban. Sekitar 1 jam kemudian, korban Bung dan Sriwijaya berhasil ditemukan oleh warga. Namun kondisi Bung sudah tidak lagi bernyawa, sementara korban Sriwijaya dalam kondisi lemas akibat mengalami kekurangan udara selama terkubur di dalam tanah. ” Cukup lama untuk menggali lokasi tertimbunnya para korban. Selain lokasi yang sempit, kondisi tanah juga cukup labil akibat guyuran hujan pada Selasa malam kemarin, ” papar Hasbi, rekan korban yang memberikan pertolongan. Usai ditemukan kedua korban, para warga kembali melanjutkan pencarian terhadap jasad Hardi dilanjutkan. Kejadian longsor yang menghebohkan warga tersebut juga mendapatkan perhatian dari ketua DPRD BU, Dandim, BPBD serta Dinsos yang meninjau lokasi dan membantu proses evakuasi. Sekitar pukul 18.00 WIB, evakuasi terhadap korban Hardi berhasil dilakukan oleh para warga. Kedua jenazah langsung dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan. Mengenai jenazah Bung, akan dibawa ke Curup untuk diserahkan kepada keluarganya. Kades Tanjung Agung Palik, Evi Sarfi mengatakan bahwa proyek yang dikerjakan oleh para korban memang sudah direncakan oleh desa melalui rapat dan sudah mendapatkan persetujuan dari konsultan. Bahkan untuk proyek irigasi yang dikerjakan tinggal melakukan pemasangan pipa saja. Namun musibah tidak dapat dihindari dan mengakibatkan melayangnya dua nyawa pekerja proyek. ” Saluran irigasi rencananya untuk mengaliri sawah yang ada di bawah, karena selama ini tidak mendapatkan air. Namun dalam pelaksanaan proyek tersebut malah mengakibatkan terjadinya musibah terhadap warga kami, ” kata Evi Sarfi.

Banjir Batu Galing

Di Rejang Lebong banjir mendadak terjadi sekitar pukul 14.00 WIB kemarin di jalan Mira Kelurahan Batu Galing. Genangan air dengan ketinggian air sekitar 0,5 meter membuat pengendara bermotor maupun mobil susah untuk melintas. Bukan hanya jalan, banjir dadakan yang hanya terjadi saat hujan tersebut juga membuat beberapa rumah warga kemasukan air hujan. Bukan hanya di Kelurahan Batu Galing, musibah banjir juga dialami warga di Rt 3 Rw 2 Kelurahan Talang Rimbo Lama. Setidaknya terdapat empat unit rumah warga yang harus kemasukan air hujan yang meluap menggenangi jalan dan halaman rumah warga ketika hujan turun. Ketua Rt setempat Apuadi dikonfirmasi wartawan kemarin mengatakan, warga diwilayahkany mulai khawatir, karena setiap kali hujan deras warga jadi korban banjir dadakan. “Banjir memang hanya terjadi selama hujan, namun luapan air yang membanjiri rumah warga,” terangnya. Supiati (42) warga setempat menerangkan, kejadian banjir dadakan tersebut sudah dialami warga sejak 4 tahun yang lalu. Kondisi itu membuat warga terpaksa membangun tanggul di depan rumah, agar air tidak masuk ke rumah warga saat hujan deras datang. “Kalo tidak ada tanggul air hujan masuk tidak masuk ke rumah. Tetapi luapan air kali ini lebih tinggi dari genangan air,” katanya.

Beberapa rumah warga yang terkena dampak banjir dadakan di lokasi tersebut, diantaranya rumah milik Deden, Sardiah, Ngadi dan Muis yang berada di gang SD 5 Talang Rimbo. “Warga lain juga terkena dampak, tetapi tidak separah kami. Dinding pagar saya bahkan pernah jebol karena banjir dadakan,” tutur Supiati. Warga berharap tidak ada masyarakat yang membuang sampah ke dalam drainase, yang akan menghambat jalur air. Selain itu, Apuadi kembali meminta ada upaya pemecahan jalur dari yang beradal dari Desa Air Meles, Batu Galing dan Talang Rimbo Lama, karena drainase yang ada tidak mampu lagi menampung genangan air. “Kebetulan daerah kami ini berada di dataran redah, sedangkan air mengalir ke tempat kami semua,” pinta Ketua Rt itu. Dampak banjir dadakan juga dirasakan warga di jalan Juang Rt 3 Rw 2 Batu Galing. Mursal Kosim, yang juga tokoh adat pada Badan Musyawarah Adat (BMA) Rejang Lebong siang kemarin harus sibuk membersihkan rumahnya, yang ikut kemasukan air banjir. Banjir dadakan yang terjadi kemarin diakui Mursal bukan pertama kali terjadi, bahkan sudah hampir 4 tahun. “Kami sudah sampaikan kepada pejabat yang ada disekitar rumah kami, tetapi tidak ada tanggapan,” akunya.

Padahal, terang Mursal, di daerah tersebut juga tinggal Sekretaris Dinas, anggota DPRD, kabag keuangan, serta beberapa camat yang seharusnya bisa menyampaikan kondisi yang ada kepada pimpinan mereka. “Kalau kami yang sampaikan, apa guna mereka. Pejabat ini asal rumah mereka tidak kebanjiran, orang disekitar mereka yang kebanjiran tidak diperdulikan,” keluhnya. Pantauan wartawan, banjir membuat jalan Mira digenangi air sekitar 0,5 meter. Kondisi itu membuat kendaraan sudah lewat. Beberapa kendaraan yang memaksa melintasi genangan air bahkan terpaksa harus macet. Sebuah mobil dengan nomor polisi BD 440 LK bahkan harus mogok karena memaksa melintasi genangan air. Beberapa kendaraan memilih memutar arah, untuk menghindari banjir. Hujan deras yang terjadi sejak pukul 13.00 WIB kemarin tidak hanya menyebabkan banjir dadakan. Sebuah tiang listrik di Kelurahan TUnas Harapan Kecamatan Curup Utara sekitar pukul 16.00 WIB kemarin roboh. Kondisi itu membuat warga sekitar cemas, karena tiang tersebut menimbulkan percikan api hingga membuat padam listrik.

Letak tiang listrik yang berada di jalan DR AK Gani itu juga sempat menutup jalan. Kabel serta tiang listrik tergeletak di jalan. Kondisi itu tidak berakhir semakin lama, setelah beberapa orang petugas PLN yang mendapatkan laporan warga lansung menuju lokasi kejadin. “Tiang listri itu dipindahkan menjauh dari jalan, ketika dibangun pelebaran jalan. Mungkin ditanam kurang kencang sehingga robohm,” tutur Andi (37) warga sekitar.

Petani Gagal Panen

Hujan deras yang turun secara intensif dalam dua hari terakhir ini membuat rumah dan perkebunan warga Desa Air Hitam Ujan Mas, Kepahiang terendam. Tak tanggung-tanggung 3 rumah warga di daerah ini terendam sebatas lutut kaki yakni rumah milik warga Sutarman (36), Arbi (40) dan Sakrok (40). Banjir akibat luapan air PLTA Musi Kepahiang ini mengakibatkan warga masyarakat yang rata-rata petani terancam gagal panen. Korban banjir Sutarman (36) yang juga merupakan petani kepada BE menyampaikan banjir ini terjadi sekitar pukul 16.00 WIB. Dimana pada waktu itu hujan deras yang turun tiba-tiba saja membawa air yang cukup banyak dari hulu siring air hitam. Sehingga secara tiba-tiba rumah dan jembatan yang ada didaerah tersebut nyaris tenggelam. “Kejadian ini terjadi sekitar pukul 16.00 WIB, dimana secara tiba-tiba air langsung datang dari huklu siring ini dan mengakibatkan rumah 3 warga didaerah ini terendam,” katanya. Dikatakannya, kondisi ini sebenarnya sudah pernah terjadi yakni pada tahun 2011 lalu. Dimana kurangnya perhatian pemerintah sehingga kondisi ini selalu terulang setuiap tahunnya. “Tahun lalu juga kondisinya seperti ini yakni karena luapan air PLTA Musi,” jelasnya. Dijelaskannya, air bisa surut pada pukul 18,00 WIB, dimana secara berangsur-angsur air yang datang dari hulu siring lambat laun seidikit. Dimana selain rumah miliknya tergenang air, kebun cabai miliknya seluas 1,5 gulung juga tergenang sehingga mengakibatkan gagal panen. “Luapan air ini juga mengakibatkan sawah milik Arbi seluas 1 Ha juga terendam dan gagal panen,” katanya. Sementara itu, Wakil Bupati Kepahiang Bambang Sugianto SH MH beserta Camat Hujan Mas Yayat Rohiat beserta Kapolsek Ujan Mas AKP Margopo setelah mendegar inforamsi banjir ini langsung ketempat kejadian perkara. Dimana menurut wabup pihaknya akan berkordinasi dengan BPBD Kepahiang untuk menangani masalah ini. “Kita akan upayakan segera untuk memberikan bantuan kepada warga yang terkena banjir ini,” ujar Wabup.

Air Santan Meluap

Kondisi tak jauh berbeda di Lebong. Hujan yang mengguyur sejak Rabu (8/2) kembali merendam puluhan rumah, heler dan sawah di Desa Kota Baru Santan Kecamatan Pelabai. Dikatakan Kepala Desa Kota Baru Santan Hamidir kepada wartawan bahwa banjir tersebut akibat luapan sungai Air Santan yang meluap sekitar pukul 15.00 hingga pukul 17.00 WIB. “Air Santan tadi mulai naik sekitar jam 3 sore saat hujan deras tadi. Akibatnya sekitar 10 rumah terendam, bahkan heler padi juga terendam. Sekitar 25 ton dedak halus hanyut akibat banjir,” jelas Hamidir. Selain itu, banjir juga nyaris memutuskan jembatan jalan lingkungan yang mengakibatkan jalan tersebut miring dan tidak dapat dilewati lagi. Kemudian, satu unit genset milik warga, kayu olahan yang belum diketahui jumlahnya juga dikabarkan ikut hanyut terbawa banjir. Bahkan ada juga rumah warga yang terkena longsor, sehingga mengakibatkan dapur rumahnya hilang hingga 1 meter dan membuat warga tersebut mengungsi ke rumah keluarganya yang lain. “Kemudian ada irigasi milik Dinas Pertanian yang jebol di tiga titik sepanjang kurang lebih 30 meter. Kita masih melakukan pendataan untuk memastikan seberapa banyak warga dan fasilitas yang mengalami kerugian akibat banjir ini. Kemudian dari BPBD dan pihak kecamatan sudah turun untuk meninjau lokasi banjir di Desa Kota Baru Santan,” pungkas Hamidir(212/777/999/505)