Bayi Lahir Tanpa Anus dan Kelamin

IMG_3473
KOTA PADANG, BE – Sungguh berat cobaan yang menimpa Lusi milawati (21) dan Warpendi (35). Anak pertama pasangan suami istri yang tinggal di Desa Durian Mas Kecamatan Kota Padang Rejang Lebong ini lahir dengan kondisi tak sempurna. Bayi yang diberi nama Randica itu tidak memiliki anus dan tanpa alat kelaminnya sehingga tidak jelas apakah perempuan atau laki-laki. Di bawah pusarnya hanya ada gumpalan daging merah yang tidak jelas bentuknya. Akibatnya bayi yang masih berusia 3 hari itu kesulitan saat buang air besar (BAB) dan kini hanya dibantu selang sementara.
Bayi dari pasangan keluarga tani dan buruh ini lahir bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda, Selasa lalu (28/10) sekitar pukul 19.00 WIB dengan proses normal. Bayi malang tersebut lahir di perjalanan saat akan menuju Puskesmas Kota Padang dengan berat 2,5 kilogram dan panjang 38 centimeter.
Saat disambangi kediaman pasutri Lusi Milawati dan Warpendi terlihat sangat sederhana. Bayi malang itu hanya berada di tempat tidur yang terbuat dari kayu dan berada di ruang tamu berselimutkan kain lusuh. Tidak terlihat ada perlengkapan bayi lainnya. Terkadang sang anak menangis merintih untuk buang air kecil dan besar karena merasa sakit. Kian lirih, bayi malang itu tidak diberi air susu ibunya, melainkan air nasi atau tajin.
Kedua orangtua bayi tersebut kini pasrah dengan kondisi sang anak. Mereka terbentur kesulitan ekonomi. Sang ibu, Lusi mengaku lirih mendengar tangis anaknya yang selalu menjerit-jerit bila ingin buang air. Sedangkan untuk mengoperasi anaknya, ia mengaku tidak berdaya karena tidak punya biaya. “Sedih, tapi mau gimana lagi, kami tidak punya biaya untuk operasi,” ungkapnya.
Ia pun menceritakan, sebelum lahir sang buah hatinya tersebut dirinya pernah bermimpi memakan dua buah pisang. Hanya saja, ia tidak jelas pisang yang dimakan jenis apa. Dalam mimpi tersebut sudah ada gambaran bayinya lahir tanpa kelamin.”Saat itu saya pikir hanya mimpi. Tapi ternyata jadi kenyataan,” tuturnya.
Senada diungkapkan, Warfendi, ayah bayi tanpa anus itu yang hanya bisa meratap kondisi anaknya. Ia mengaku, jangankan untuk mengoperasi, untuk makan sehari-hari saja kekurangan, karena ia hanya seorang petani.
“ Saya pasrah saja sama Yang Maha Kuasa. Kalau memang ditakdirkan hidup seperti ini maka akan dijalani. Habis mau gimana lagi kalau kondisi ekonomi keluarga kami seperti ini,” ungkapnya.
Disinggung mengenai pengobatan anaknya, Warfendi hanya menggeleng.  Namun ia tidak mau buah hatinya meninggal karena kelainan tersebut. Jika ada para dermawan atau Pemerintah Rejang Lebong  siap membantu biaya operasi anaknya, ia tidak akan menolak. Bahkan bersyukur dan berterima kasih. “Jika ada yang mau bantu biaya operasi anak saya, sungguh itu merupakan mukjizat bagi keluarga kami,” pungkasnya.
Sementara itu Kepala Puskesmas Kecamatan Kota Padang Raja Mudin saat dihubungi BEmengungkapkan bayi tersebut lahir belum genap 9 bulan. Ia memperkirakan jika baru berumur 8 bulan kandungan.”Kami sudah membut surat rujukan untuk dibawa ke Rumah Sakit Curup ,tapi keluarga nya tidak bersedia karena faktor ekonomi yang sulit,” tuturnya.
Ia pun menyampaikan jika tidak cepat dioperasi selain menyulitkan sang bayi buang air, tapi juga gumpalan daging tersebut bisa terinfeksi. Ini bisa membahayakan nyawa bayi tersebut.”Kami menyarankan agar secepatnya diambil tindakan medis agar bayi tersebut bisa cepat pulih,” imbuhnya.
Informasi dari Kades Durian Mas, Henli Rosa dan Kades Suka Merindu, Firdaus Al-Farizi saat ditemui di kediaman orang tua bayi bernama Rendica kemarin, Rabu (29/10)  saat mengetahui bayi tidak memiliki anus, Henli menyarankan agar merujuk bayi tersebut dibawa ke rumah sakit umum daerah (RSUD) untuk mendapat perawatan medis. Namun karena tidak ada biaya, bayi tersebut dibawa pulang oleh keluarganya.
“Saya sudah menyarankan, tapi orang tua Rendica tidak mau karena mereka mengaku tidak punya biaya. Harapan saya selaku pemerintah desa, Rendica segera mendapatkan perhatian pemerintah agar segera mendapatkan perawatan,” ungkap Henli yang diamini juga Firdaus, Kades Suka Merindu.(222)