Batuk 2 Minggu, Periksa ke Dokter! Bisa Saja Terkena TBC

BENGKULU, bengkuluekspress.com – Penyakit TBC atau  Tuberkulosis masaih menjadi salah satu penyakit terbesar yang harus ditangani secara serius di Indonesia.

Neli Hartati Kabid P2P Pencegahan dan Pengendalian Penyakit

Penyakit yang disebabkan oleh infeksi bakteri mycobacterium tuberculosis ini bisa menimpah siapa saja. Pasalnya pengidap seringkali abai ketika telah menderita batuk selama lebih dari 2 minggu.

Kabid P2P (Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Bengkulu, Neli Hartati mengatakan, adapun gejala yang ditimbulkan oleh TBC ini seperti batuk lebih dari 2 minggu, kurang nafsu makan, berkeringat malam walaupun tidak ada aktivitas dan berat badan menurun drastis.

“Gejala yang ditimbulkan ini cukup sederhana, hal ini juga mengakibatkan penyakit TBC ini tidak banyak terdeteksi, masyarakat cuma menganggap gejala yang ditimbulkan itu hanya demam biasa saja. Untuk mengetahui apakah kita terinfeksi TBC kita memang harus melakukan pemeriksaan pada instansi kesehatan. Saat ini sudah ada alat yang tersedia untuk mengecek penyakit TBC ini waktu pemeriksaan juga cukup singkat,” kata Neli, Rabu (9/2).

Kasus kesembuhan penyakit TBC ini hampir 90% bisa disembuhkan, hanya saja untuk mengobati penyakit TBC ini membutuhkan waktu yang cukup lama. Minimal pengobatannya 6 bulan dan harus konsisten minum obat.

“Beberapa masyarakat untuk melakukan pengobatan TBC ini berobat membeli obat pada rumah sakit swasta sehingga biaya yang dikeluarkan cukup menguras kantong. Hal ini lah yang mengakibatkan pengobatan hanya berlangsung sebentar karena tidak ada lagi biaya. Padahal dari rumah sakit yang disediakan pemerintah sudah menyediakan pengobatan perpaket untuk penyakit TBC. Disarankan kepada masyarakat apabila mengalami gejalah TBC ini segara melakukan penanganan pada rumah sakit yang disediakan oleh pemerintah,” kata Neli

Apabila pengobatan tidak diselesaikan maka akan menyebabkan pasein tersebut menderita TB MDR (Tuberkulosisi Multi Drug Resistent). TB MDR ini adalah kondisi dimana pasein sudah kebal sama obat. Hal ini mengakibatkan harus menambah dosis obat dan penanganannya lebih ekstra dan biaya pemulihan nya lebih besar daru sebelumnya.

“Kasus TBC ini dalam 2 tahun terakhir menurun karena adanya covid. Yang rendah itu sebenarnya adalah kasus pemeriksaannya. Kalau untuk penderita TBC sendiri kami memproyeksikan ada sekitar 2 ribu kasus TB di Kota Bengkulu. Asumsi itu masuk logika karena dari tahun ke tahun yang meningal akibat TB itu banyak. Terakhir kami mendeteksi ada 30 orang yang terpapar TB,” kata Neli.

Untuk pencegahan TBC ini bisa dicegah dengan beberapa hal salah satunya dengan menggunakan masker.

“TBC merupakan penyakit yang hampir sama dengn Covid, sama sama penyakit saluran pernafasan. Penyebaran nya pun hampir sama dengan Covid bisa melalui kontak fisik, udara yang dihirup, penggunaan barang secara bersamaan dan lain lain. Oleh sebab itu memakai masker menjadi salah satu upaya untuk mencegahnya,” kata Neli.

Pihak Dinkes sendiri sudah menyediakan beberapa program bersama dengan tim promisi seperti PHBS, perilaku batuk, deteksi dini yang digunakan untuk menditeksi segala macam penyakit. Apabila program yang disediakan oleh Dinkes ini sudah dilaksanakan dan tidak diabaikan akan terjadi pemutusan nata rantai penyakit dan juga akan mencegah serta mengendalikan penyakit.

Selain itu pihak DinKes juga meminta kepada masyarakat untuk jujur apabila merasakan penyakit apapun, keluhkan sesuai apa yang dirasakan.

“Cuma batuk kemarin, cuma batuk biasa nanti akan sembuh kata masyarakat apabila ditanyakan tentang kesehatannya. Masih tidak jujur padahal kejujuran itu sangat membantu untuk menditeksi penyakit, kami selalu mengharapkan agar masyarakat bisa jujur dan tidak perlu takut,” kata Neli.(CICI/MG8)