Ayam dan Telur Terus Melonjak

Pasokan Peternak Berkurang

BENGKULU, Bengkulu Ekspress– Naiknya harga sejumlah komoditas daging ayam dan telur di sejumlah Pasar Tradisional Kota Bengkulu disebabkan oleh sedikitnya jumlah persediaan. Sedikitnya jumlah persediaan tersebut membuat harga ayam dan telur menjadi mahal.

Pedagang daging ayam di Pasar Tradisional Modern (PTM) Kota Bengkulu, Nofriansyah mengeluh, tidak adanya stok ayam menyebabkan harga daging ayam mengalami kenaikan signifikan dari harga normal Rp 32 ribu perkilogram (kg) menjadi Rp 46 ribu – Rp 48 ribu per kg. Hal tersebut disebabkan sejak dua hari terakhir pasokan daging ayam potong menipis dan membuat harga semakin tinggi. “Biasanya, saya mendapat kiriman 400 ekor ayam, namun kini hanya 200 ekor,” ujar Nofri, kemarin (24/7). Berdasarkan informasi yang diperoleh, kelangkaan daging ayam disebabkan pasokan dari peternak berkurang. Hal ini karena bibit ayam yang disuplai menurun. “Daging ayam langka karena para peternak tidak mendapatkan pasokan bibit ayam,” tutup Nofri.

Selain daging ayam, telur ayam juga mengalami kenaikan harga yang cukup signifikan dari Rp 40 ribu menjadi Rp 50 ribu perkarpet. Salah seorang pedagang di PTM Kota Bengkulu, Amir (51) menyampaikan kondisi ini telah berlangsung usai lebaran. Hal tersebut disebabkan oleh pasokan telur dari Padang yang sangat sedikit.

“Sekarang dari Padang pasokan telur setiap 3 hari sekali hanya mampu membawa 10.800 butir telur padahal biasanya bisa sampai 20 ribu butir,” ujar Amir.

Sedikitnya pasokan tidak mampu menampung tingginya permintaan telur dari masyarakat. Hal inilah yang membuat pedagang menaikkan harga telur ayam di Pasar. “Banyak ibu-ibu yang mencoba menawar, tapi kami tak bisa lagi mengurangi harga telur yang sudah merupakan harga yang pas,” jelas Amir.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bengkulu, Hj Dewi Dharma MSi mengaku, telah memantau harga daging ayam dan telur di Pasar. Rupanya terjadi penurunan pasokan daging dan telur ayam dari distributor. “Harga daging dan telur ayam tinggi disebabkan permintaan yang tinggi sedangkan stok ayam di pedagang dan peternak terbatas,” tutur Dewi.

Seperti diketahui, kebutuhan daging ayam di Kota Bengkulu dalam sehari mencapai kurang lebih 11 ton. Sementara itu kebutuhan telur di Kota Bengkulu setiap hari mencapai 30-40 ribu karpet dan kalau dihitung per kilonya kira-kira 400-500 kilogram setiap hari.
“Persediaan daging ayam dan telur terbatas sehingga harganya mahal,” terang Dewi.

Selain itu pihaknya juga telah menemui beberapa distributor daging dan telur ayam di Kota Bengkulu. Beberapa distributor mengaku pasokan ayam dan telur sedikit sehingga harganya menjadi mahal karena didatangkan dari luar Kota Bengkulu. “Kita sudah bertemu langsung dengan distributor daging dan telur ayam dan memang untuk stok yang ada tidak mencukupi untuk area penjualan di Kota Bengkulu,” kata Dewi.

Pihaknya menegaskan bahwa masalah mahalnya harga daging dan telur ayam bukan hanya terjadi di Kota Bengkulu saja akan tetapi sudah menjadi isu nasional. “Kami tekankan sekali lagi ini bukan terjadi di Bengkulu saja tetapi hampir disetiap daerah harga telur naik,” tutupnya.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Bengkulu Marjon menyarankan agar para Aparatur Sipil Negara (ASN) memanfaatkan pekarangan rumah dengan memelihara ayam. “Setiap pembahasan TPID, saya selalu katakan, kalau lah seluruh ASN dan masyarakat untuk menekan ayam dan telur yang mahal, satu orang saja memiliki 1 ekor ayam saja maka harga ayam itu tidak akan mahal,”ujar Marjon, kemarin (24/7).

Ia menilai selama ini masyarakat hanya membeli terus dan tidak berpikir untuk menernak sendiri. “Kita kan beli terus, beli, beli terus. Sampai kapan kita beli? Maka itu kita evaluasi untuk penekanan itu bagaimana masyarakat untuk pelihara ayam minimal dua ekor satu rumah,” jelasnya.

Menurutnya imbauan ini sudah sering ia sampaikan. Baik melalui media, juga melalui perangkat pemerintahan lainnya. “Sudah kita siarkan juga melalui lurah, bagaimana masyarakat itu melihat potensi di rumah, apa yang berpotensi naik, harga daging kah, telur kah. Masa kita punya lahan kosong di belakang rumah tidak punya ayam, tidak punya kandang ternak untuk antisipasi kenaikan harga,” paparnya.

Sebelumnya, Kepala Disperindag Kota Bengkulu Dewi Dharma mengatakan kenaikan harga ayam dan telur dipicu lantaran berkurangnya stok. Hal ini terjadi tidak hanya di Kota Bengkulu tapi juga di seluruh daerah.

“Kita juga tengah melakukan koordinasi dengan Bulog untuk menambah stok,” kata dia. Untuk diketahui, harga daging ayam mencapai Rp 50 ribu per kilogram. Untuk telur mencapai Rp 40 ribu per karpet (30 butir). (805/999/**)